01
Mei
08

Pembebasan Dalam Pemikiran Islam

Iskandar Dzulqornain

Gerakan kebangkitan Islam di abad 19 di hampir seluruh dunia Islam disebut sebagai gerakan pembebasan. “Pembebasan” di sini bisa bermakna ganda. Pada satu sisi, ia berarti pembebasan kaum muslim dari kolonialisme dan penjajahan yang pada saat itu memang menguasai hampir seluruh dunia Islam. Pada sisi lain, ia berarti pembebasan kaum muslim dari cara-cara berpikir dan perilaku keberagamaan yang menghambat kemajuan. Periode pembebasan itu disebut “liberal age”.

Benang merah yang bisa ditarik dari para intelektual muslim pembebasan itu, yakni perasaan dan semangat untuk membebaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kejumudan. Belenggu inilah yang dianggap sebagai sebab utama ketakberdayaan bangsa bangsa muslim di depan bangsa asing (kolonialisme). Hanya dengan membangun kembali (rekonstruksi) cara pandang dan sikap keberagamaan mereka, kondisi menyedihkan itu dapat diperbaiki.

Kendati berbeda dalam metodologi dan pendekatan diantara intelektual muslim. Namun mereka memiliki kesamaan dalam menyikapi kondisi kaum muslim. Yakni, bahwa hanya pembebasan dirilah (self-liberating) yang dapat mengeluarkan mereka dari kondisi itu. Pada level praktis, pembebasan itu adalah perlawanan terhadap kolonialisme secara fisik, dan pada level teoritis, pembebasan itu harus dimulai dengan membuka pintu ijtihad seluas-luasnya, memberikan kebebasan penafsiran terhadap doktrin doktrin agama, dan mengkaji ulang tradisi dan khazanah (turats) keagamaan kaum muslim.

Secara metodologis, dalam menerapkan gagasan gagasan pembebasannya, para intelektual muslim sangat dipengaruhi latar belakang pendidikan, ekonomi, dan sosial mereka. Inilah yang kemudian memunculkan banyaknya kecenderungan dan aliran pemikiran Islam. Sesungguhnya, sama seperti di masa silam ketika pemikiran Islam terpecah menjadi aliran aliran pemikiran, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Qadariyah, Jabariyah, Sifatiyah, Syafi’iyyah, Hanafiyah, dan lain lain. Di masa modern, sesuai dengan konteks nomenklatur dan neologi yang beredar, aliran aliran pemikiran Islam kemudian terpecah menjadi Tradisionalis, Modernis, Neomodernis, Postmodernis, Revivalis, Neorevivalis, dan nama nama lain yang mewakili setiap kecenderungan pemikiran dalam Islam.

Istilah istilah itu sekadar untuk memudahkan kita memahami fenomena pemikiran Islam yang begitu beragam. Charles Kurzman mencoba melihat pemikiran Islam dari perspektif holistik dengan mengambil pembebasanisme –benang merah gagasan awal kebangkitan Islam– sebagai standar untuk memahami gagasan gagasan pemikiran dan metode metode yang digunakan para intelektual muslim, sejak era kebangkitan hingga sekarang.

Pembebasanisme yang menjadi raison d’etre kebangkitan Islam awal abad ke-19 dijadikan Kurzman sebagai “parameter” atau “timbangan” untuk mengukur sejauh mana seorang intelektual muslim memiliki komitmen terhadap raison tersebut dan selanjutnya terhadap kebangkitan Islam itu sendiri. Kurzman memberikan ruang yang begitu besar bagi terjadinya amalgamasi, interaksi, dan interkoneksi antara satu pemikir dengan pemikir yang lain, atau antara satu gagasan pemikiran dengan pemikiran lainnya.

Ruang luas yang diberikan Kurzman itu sebagai sebuah tingkatan tingkatan pembebasanisme dalam Islam. Adalah merupakan common sense belaka bahwa setiap orang memiliki tekanan pembebasan yang berbeda dalam menyuarakan gagasan gagasan pemikirannya. Yang terpenting di sini adalah bahwa pemikiran pemikiran mereka dapat memenuhi standar pembebasanisme Islam yang oleh Kurzman diukur berdasarkan enam state of mind, yakni sikap terhadap teokrasi, demokrasi, hak hak perempuan, hak hak non-muslim, kebebasan berpikir, dan progresifitas atau kemajuan.

Karena itu tidak tepat agaknya mempertentangkan “Islam Pembebasan” dengan taksonomi lama (tradisionalis, modernis, revivalis) atau yang baru (neomodernis, posmodernis, atau apapun namanya). Karena gagasan “Islam Pembebasan” itu sesungguhnya merupakan kombinasi dari unsur unsur pembebasan yang ada dalam kelompok kelompok pemikiran modern itu.

Jika Islam Pembebasan tak bisa dipertentangkan dengan kelompok kelompok dalam taksonomi (model) lama, maka apakah yang menjadi “musuh” utama kelompok ini? Dalam kaitannya dengan pembaruan pemikiran keagamaan, ada dua “musuh” utama Islam Pembebasan. Pertama, konservatisme yang merupakan musuh historis yang telah ada sejak gerakan pembebasanisme Islam pertama kali muncul. Kedua, fundamentalisme yang muncul akibat pergesekan Islam dan politik setelah negara negara muslim meraih kemerdekaannya.

Konservatisme telah lama dianggap sebagai “ideologi” yang bertanggung-jawab terhadap kemunduran dan keterbelakangan kaum muslim. Pandangan pandangan konservatif selalu dianggap berbahaya karena ia bertentangan dengan semangat pembaruan dan kemajuan. Sejak gerakan kebangkitan Islam muncul di Mesir pada awal abad ke-19, konservatisme menjadi target utama para pembaru muslim. Tokoh tokoh seperti Rifa’at Rafi’ al-Thahtawi, Muhammad Abduh, dan Ali Abd al-Raziq, baik secara radikal maupun perlahan mengikis ajaran ajaran konservatif. Begitu juga, tokoh tokoh dari generasi selanjutnya, termasuk generasi paska 60-an, semacam Hassan Hanafi di Mesir, Tayyib Tizzini di Suriah, dan Mohammed Abed al-Jabiri di Maroko, mendeklarasikan perang yang sama terhadap konservatisme.

Bagi para intelektual pembebasan, persoalan politik adalah persoalan pendapat (ijtihad) manusia yang harus sepenuhnya disikapi secara manusiawi. Mereka menolak gagasan negara teokrasi atau pemerintahan Tuhan, semata karena Islam pada dasarnya tidak menekankan ideologi negara, tapi lebih pada penciptaan masyarakat yang adil dan makmur. Sebagai media (washilah) untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur tersebut, bentuk negara sepenuhnya diserahkan kepada manusia, tak jadi soal apakah bentuknya republik, sosialis, demokratis, atau sistem sistem lain yang memungkinkan tujuan itu tercapai.

Para pemikir pembebasan seperti Farid Esack (Afrika Selatan), Asghar Ali Engineer (India), Hassan Hanafi (Mesir), dan Djohan Effendi (Indonesia), meyakini bahwa hubungan antar-agama pada dasarnya adalah hubungan dialogis dan bukan hubungan konfrontatif. Agama adalah persoalan keyakinan yang tidak bisa dipaksakan kepada seseorang. Keimanan adalah masalah “hidayah” yang tak boleh dipaksakan. Karena itu, bagi Djohan Effendi, kita dituntut untuk bersikap toleran, bukan hanya kepada pemeluk agama lain, tapi juga kepada orang yang tidak meyakini agama.

Dalam masalah kebebasan berpikir atau kebebasan berpendapat sikap Islam Pembebasan jauh lebih tegas ketimbang sikap kalangan konservatif yang cenderung inaktif dan sikap kalangan fundamentalis yang cenderung rejektif. Bagi intelektual pembebasan, seperti Abdul Karim Soroush (Iran), Shabbir Akhtar (Pakistan), dan Abdullahi Ahmad an-Naim (Sudan), kebebasan berpendapat adalah bagian dari wilayah ijtihad yang selama berabad-abad –oleh ulama konservatif– ditutup. Para intelektual pembebasan itu meyakini, pintu ijtihad tak pernah ditutup dan kalaupun pernah ditutup, maka ia harus dibuka. Syarat syarat klasik yang biasanya menjadi kualifikasi terberat dalam melakukan ijtihad sudah seharusnya ditinjau ulang. Karena, syarat-syarat itu, selain tidak masuk akal, hanya akan membatasi kemajuan kaum muslim.

Parameter terakhir yang membedakan antara pemikiran konservatif atau fundamentalis dengan pemikiran pembebasan adalah penyikapan terhadap progresifitas dan kemajuan. Jika Islam konservatif bersikap sangat pasif dan bahkan cenderung defensif terhadap perubahan, Islam Pembebasan berusaha untuk selalu melihat perubahan sebagai bagian dari dinamika untuk meraih kemajuan dan perbaikan hidup. Karenanya, alih alih berorientasi ke masa silam seperti yang dilakukan oleh kaum konservatif dan fundamentalis, Islam Pembebasan mengarahkan orientasinya ke masa depan.

Akhirnya, sebagai sebuah pemikiran, Islam Pembebasan sesungguhnya bukanlah fenomena baru. Ia telah ada sejak gagasan kebangkitan dan pembaruan pemikiran Islam muncul pada awal abad ke-19. Penamaan “Islam Pembebasan” yang baru beberapa tahun belakangan populer, hanyalah merupakan reinkarnasi dari istilah yang pernah digunakan baik secara eksplisit maupun implisit oleh penulis penulis sebelum Kurzman, seperti Albert Hourani dan Asaf Ali Asghar Fyzee. Penggunaan kembali istilah “Islam Pembebasan” sesungguhnya merupakan upaya untuk mengembalikan semangat kebangkitan (nahdhah) pemikiran Islam yang sejak satu abad silam telah dibajak oleh konservatisme dan fundamentalisme agama.

Bagaimanapun, istilah “Islam Pembebasan” sekadar tatakata untuk memudahkan kita merujuk sebuah gagasan atau gerakan yang memiliki cita cita untuk membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan kejumudan. Satu hal yang sesungguhnya merupakan raison d’etre kebangkitan Islam sejak dua ratus silam.


1 Response to “Pembebasan Dalam Pemikiran Islam”


  1. 1 Asep Kususanato
    September 7, 2009 pukul 4:00 am

    KATA KUNCI:

    “pembebasanisme Islam yang oleh Kurzman diukur berdasarkan enam state of mind, yakni: (1)sikap terhadap teokrasi, (2)demokrasi, (3) hak hak perempuan, (4) hak hak non-muslim, (5) kebebasan berpikir, dan (6) progresifitas atau kemajuan”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: