01
Mei
08

Teori Tanda Saussure Sebagai Analisis Produk Budaya

Iskandar Dzulqornain

Kumpulan kuliah ilmuwan bahasa dari Swiss, Ferdinand de Saussure, yang kemudian dibukukan dengan judul Liguistik Umum ( Cours de linguistique générale) tidak hanya menandai permulaan linguistik modern, melainkan pula strukturalisme. Meski Saussure belum menggunakan istilah Struktur, ia sudah memulai hampir seluruh pembedaan pembedaan konseptual yang penting bagi Strukturalisme. Saussure memahami bahasa bukan sebagai substansi, melainkan sebagai bentuk, sebagai sebuah sistem tanda yang diorganisasikan berdasarkan aturan-dalam (intern).

Saussure memperkenalkan sebuah rangkaian pembedaan pembedaan fundamental yang juga mendefinisikan wilayah wilayah kerja penelitian linguistik. Dia membedakan bahasa langue dari parole. Omongan (parole) manusia yang menarik sebuah akses analitik melalui pluralitas dan heterogenitasnya menjadi bisa dianalisa ketika bahasa dikeluarkan sebagai sebuah obyek sosial murni yang bisa didefinisikan sebagai sebuah sistem beragam tanda dan sebagai keseluruhan sistematis konvensi konvensi yang perlu bagi komunikasi. Obyek ilmu bahasa bukan omongan manusia yang menampilkan sebuah aksi individual dari pilihan dan aktualisasi aturan aturan bahasawi, melainkan bahasa dengan aturan aturan umumnya yang ada secara bebas dari individu. Bahasa (langue) adalah sebuah produk sosial dengan aturan aturannya sendiri dan sebuah sistem yang diletakkan secara tertentu yang mengatur hubungan antara masing masing elemen. Setiap wicara adalah sebuah operasi yang berdasarkan aturan yang dilakukan oleh sang pewicara tanpa merefleksikan aturan aturan yang mendasarinya yang namun bisa dianalisa dalam aturan aturan fungsinya. Linguistik berupaya menunjukkan aturan aturan umum tak sadar yang mendasari komunikasi bahasawi.

Menurut Saussure tanda tanda bahasawi muncul dari sebuah perkaitan sebuah citra suara (signifant) dan sebuah citra gagasan atau konsep (signifiér). Hubungan antara signifant dan signifiér adalah semena mena (arbitrer) dan hanya diatur oleh konvensi sosial dan karenanya bukan alami dan tidak bebas dari masing masing pewicara. Hanya dalam sebuah aturan yang ada dan berkenaan dengan tanda tanda lain, masing masing tanda bahasawi bisa memiliki sebuah makna. Bukan konsep dan juga bukan suara yang mendahului bahasa sebagai entitas entitas pembangun makna positif. Masing masing tanda juga tidak mendefinisikan diri melalui sebuah kaitan dengan sebuah obyek ekstern. Melainkan melalui posisi relatifnya dalam sistem bahasa. Dalam sistem tertutup masing masing elemen memperoleh makna yang bisa diidentifikasi dengan membedakan dari tanda tanda yang lain. Definisi Saussure bahwa dalam bahasa hanya terdapat diferensi diferensi, memformulasikan prinsip yang mengonstitusikan makna dari sistem sistem komunikasi. Juga menjadi jelas bahwa organisasi formal sistem tanda adalah persyaratan semua definisi isi dan makna. Obyek analisa strukturalistik karenanya adalah hubungan hubungan formal masing masing elemen di dalam sebuah sistem tertutup yang digambarkan di bawah sebuah sudut pandang tertentu. Tujuannya
adalah mendefinisikan struktur sebuah sistem yang baru memproduksi makna dan arti masing masing elemen, artinya sebuah model relasi relasi diantara elemen dari sebuah obyek yang kompleks.

Pembedaan Saussure antara kondisi sebuah sistem bahasa (sinkroni) dan perkembangan historis bahasa (diakroni) berupaya melaksanakan klaim sistematis ini juga secara metodis. Pemikiran sistem strukturalisme berangkat dari sebuah subordinasi diakroni dan sinkroni dan individualitas di bawah aturan aturan umum. Dalam strukturalisme fenomena fenomena bahasawi individual dikembalikan kepada struktur struktur umum dan masing masing ekspesi kepada hubungannya dengan ekspresi ekspresi lainnya. Terdapat suara kritik yang menyatakan bahwa strukturalisme tidak memperhatikan individu atau masing masing fenomena, juga tidak menilai secara fair makna perkembangan sosial, melainkan mengembangkan model model abstrak dimana seperti dalam sebuah jeruji dari kristal setiap elemen memiliki sebuah posisi yang ditempatkan secara tepat. Namun strukturalisme memahami sistem sistem tanda bukan sebagai bayangan sebuah realitas luar dan juga tidak bisa mengembalikan masing masing ekspresi bahasawi kepada maksud subyektif atau ekspresi seorang pribadi. Pada pusat peneletian strukturalistik terdapat regularitas regularitas, aturan aturan dan legalitas legalitas di dalam sistem sistem tanda. Sejarah dibayangkan sebagai sebuah sejarah bentuk bentuk.

Demikian teori Saussure telah memiliki pengaruh besar pada berbagai aliran linguistik dan strukturalisme, meski kemudian kebanyakan dari kedua aliran tersebut mengembangkan teorinya bebas satu dari yang lainnya. Misalnya, Lévi-Strauss mengambil alih teori linguistik Saussure dalam penelitian antropologis, kemudian dikenal sebagai strukturalisme antropologis. Dia mengembalikan bahasa dan kultur kepada aturan kolektif yang bisa dipahami sebagai aktifitas jiwa manusia pada tahap pemikiran tak-sadar dan memiliki keberlakuan lintas waktu. Sebagai metode penelitian, strukturalisme banyak digunakan di Prancis dalam banyak bidang ilmu pengetahuan bukan hanya dalam linguistik, melainkan juga seperti dalam ilmu sejarah, filsafat atau etnologi.

Selanjutnya teori tanda Saussure menjadi penting bagi penelitian semiotik. Menurut Saussure semiologi mestinya sudah memiliki sebuah ilmu pengetahuan komprehensif tentang tanda. Pemikiran teoritik tanda Saussure dalam Linguistik Umum, terutama dalam linguistik, dikembangkan dan dipikirkan lebih lanjut oleh teoritisi semiotika perancis, Roland Barthes misalnya. Semua sistem tanda adalah hanya, demikian tesanya, bisa dipahami melalui sebuah mediasi bahasawi dan semiologi karenanya adalah sebuah bidang bagian linguistik yang jelas menjadi sebuah ilmu pengetahuan dasar.

Namun para teoritisi semiotika sistem tanda menganalisa tanda melalui model model umum tanda dan menguji kebebasan dari linguistik. Klasifikasi dan diferensiasi mereka tentang tanda dan proses proses komunikasi menyiapkan sebuah instrumen konseptual yang mengijinkan untuk memahami dan menganalisa, misalnya film dan fotografi, iklan dan sistem prilaku. Artinya beragam sistem tanda sebagai fenomena sosial. Bidang penerapan semiotik sebagai teori umum tanda dengan begitu juga mencakup bidang bidang semacam kedokteran (simptom), musik, komunikasi visual dan komunikasi massa, pendeknya keseluruhan kultur.

Ketika hukum komunikasi adalah hukum kultur, sebuah analisa kultur dalam sudut pandang komunikasi bisa menunjukkan karakter sistematis proses proses kultural dalam kerangka sistem tanda. Analisa tanda sebagai hasil proses proses sosial menuju kepada sebuah pembongkaran struktur struktur dalam yang mengemudikan setiap komunikasi. Bila bahasa dan komunikasi bisa dipahami sebagai bentuk bentuk organisasi sosial. Disamping itu, beragam sistem tanda dikemudikan melalui pola stereotip tertentu, semiologi adalah sebuah bentuk pencerahan. Karena ia berupaya menganalisa produksi dan fungsi stereotip stereotip yang didefiniskan sebagai bentuk bentuk ekspresi kekuasaan sosial.


0 Responses to “Teori Tanda Saussure Sebagai Analisis Produk Budaya”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: