30
Apr
08

Menalar Praktik Dominasi

Menalar Praktik Dominasi

Oleh Iskandar Dzulqornain

Tak jarang kita saksikan praktik-praktik ganjil dalam kehidupan ini. Kekerasan menjadi hal yang lumrah. Penindasan menjadi hal yang wajar. Pemberangusan hak-hak yang lain dianggap biasa. Ironis kiranya bila demi kemanusaian kita justru menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan.

Kebebasan yang mengagung-agungkan nilai-nilai kemanusiaan, saat ini, justru mencapai titik balik. Pendulum kebebasan yang diayunkan kini berbalik menghantam dirinya sendiri. Dalam keadaan begini tiba-tiba saja ruang ini terasa semakin sempit. Sebab perbedaan pendapat, kepentingan, selalu diselesaikan dengan amukan dan amarah yang berujung pada kekerasan. Alhasil, perbedaan menjadi hal yang sangat tabu. Nampaknya humanisme telah bermetamorfosis menjadi dehumanisme.

Lalu, tidak sedikit dari kita mulai meragukan humanisme yang diusung sejak zaman pencerahan. Bagaimana tidak, kita terlanjur berharap banyak padanya yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Namun, toh sampai saat ini kita masih mengemis keadilan dengan keadaan perut kosong. Kebebasan berpendapat dan berekspresi masih dianggap sebagai ancaman bagi pihak lain.

Di tengah kondisi yang penuh ketakutan ini lalu kita sibuk mencari pijakan untuk menyelamatkan kehidupan ini: kehidupan berbangsa, bernegara, beragama. Negara meracik ideologi demi ‘kesejahteraan’. Agama merajut makna demi ‘keselamatan’. Bangsa meramu budaya demi ‘kebersamaan’.

Tidak diragukan, masing-masing mengandung nilai-nilai luhur yang menjunjung tinggi kehidupan dan martabat manusia. Namun untuk menggapai tujuannya mereka rentan menjadi alat represif dengan membenarkan cara-cara yang ganjil. Bukan hanya negara yang dalam praksisnya rentan dijadikan alat represif untuk mencapai tujuan tertentu. Agama pun terbukti juga ampuh sebagai alat represif. Siapa yang menyangsikan kalau agama tidak memuat nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kehidupan. Siapa yang meragukan kalau negara memuat nilai-nilai kesejahteraan bersama.

Nampaknya, persoalan itu bukan terletak pada nilai-nilai yang dikandungnya. Karena tidak ada satu pun dari mereka memuat nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Persoalan itu terletak pada tindakan pencapaian tujuan.

Dalam pencapaian tujuan, tentu, nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam wujud tindakan. Karena tanpa penerjemahan ke dalam suatu tindakan, nilai-nilai itu tak ada gunanya. Kemudian dalam perwujudannya, kelompok tertentu menerjemahkan sebentuk nilai-nilai ke dalam pola tindakan. Penerjemahan-penerjemahan itu dimaksudkan untuk mencapai kebenaran. Karena kebenaran adalah murni, maka kepentingan-kepentingan didesakkan keluar agar tidak memengaruhi tafsiran-tafsiran. Dengan asumsi bila kepentingan tidak hadir dalam penafsiran, maka tafsiran tersebut adalah mutlak benar. Asumsi ini mengandaikan bahwa kebenaran berada ‘di sana’.

Pandangan seperti ini kemudian menunggalkan kebenaran yang lantas mengarah pada absolutisme. Kebenaran tafsiran adalah tunggal. Karenanya tafsiran yang lain adalah sesat.

Selanjutnya, anggapan seperti ini menumbuhkan sikap eksklusivisme, sikap anti dialog. Eksklusivisme tidak memberi ruang pada keberbedaan apalagi kemajemukan. Dengan sikap seperti ini akhirnya keberbedaan dianggap sebagai ancaman. Individu atau kelompok lain yang berbeda adalah ancaman terhadap eksistensi dari kelompok yang satu. Dalam situasi seperti ini masing-masing pihak akan saling mencurigai, tidak ada upaya untuk saling memahami yang lain.

Karena kebenaran dimaksudkan sebagai suatu pengejaran ontologis, maka untuk mendapatkannya lalu dimunculkan otoritas untuk melakukan hal itu. Semakin tinggi otoritas yang dilegitimasi maka semakin tinggi nilai kebenaran tafsiran yang dihasilkan. Hal ini selanjutnya memungkinkan individu atau kelompok merasa berhak melakukan tindakan represif terhadap individu atau kelompok lain yang berbeda penafsiran.

Dalam menafsirkan ideologi negara ataupun teks agama, misalnya, otoritas penafsiran ada pada individu atau kelompok tertentu yang dianggap capable dan competence dalam hal itu. Otoritas ini akan semakin mendapatkan legitimasinya bila dilembagakan dalam masyarakat. Sehingga tindakan represif dalam melindas dan meminggirkan yang berbeda seolah mendapatkan legitimasi. Dalam hal ini tindakan represif tidak tampak sebagai keganjilan. Keangkuhan tampak sebagai kewajaran. Karena menganggap diri paling legitimate, maka penafsiran yang tidak sesuai dengan seleranya apalagi mengusik kepentingannya patut disingkirkan karena merupakan ancaman.

Kecenderungan mengejar kebenaran ontologis inilah selanjutnya mengarah pada praktik dominasi. Karena praktik dominasi bertujuan menyeragamkan atau menunggalkan, maka ia menciptakan jarak antagonis dengan yang lain. Saya/kami adalah baik sedang kamu/kalian adalah buruk, Saya/kami adalah benar sedang kamu/kalian adalah salah, dan seterusnya. Karenanya yang lain patut disingkirkan. Praktik dominasi ini dipertahankan dengan menghadirkannya secara legitimate dan berupaya memperkuat tingkat legitimasinya secara rasional. Oleh karenanya ketimpangan serta keganjilan dari praktik dominasi ini tampak rasional.

Kiranya penting untuk mendesakkan pemahaman bahwa penafsiran merupakan kreasi sosial-historis dimana teks itu ditafsirkan. Mestinya penafsiran tidaklah dimaksudkan sebagai pengejaran kebenaran ontologis, murni, mutlak. Makna tidak turun dari langit. Ia terkait dengan proses sosial-historis yang sarat kepentingan. Tidak ada kebenaran (‘k’ besar) tapi hanya kebenaran-kebenaran (‘k’ kecil) yang bersarang dalam penafsiran. Dengan demikian praktik dominasi tidak menemukan ruang, bahkan untuk bermetamorfosis. Karena kebenaran ontologis tidak menjadi tujuan. Akhirnya, masing-masing akan merasa tidak paling benar diantara kebenaran-kebenaran yang lain.


0 Responses to “Menalar Praktik Dominasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: