04
Mei
08

Sosiologi Pengetahuan (Mengenal Karl Mannheim)

Iskandar Dzulqornain

Karl Mannheim, seorang sosiolog Hungaria yang pindah ke Jerman dan akhirnya menetap di Inggris. Lahir di Budapest pada tahun 1893 dari seorang ayah Hongaria dan ibu orang Jerman. Dia menghabiskan masa kanaknya di kota kelahirannya. Setelah lulus dari sekolah menengah (humanistik gymnasium) dia melanjutkan ke perguruan tinggi di Budapest kemudian ke Jerman, sempat tinggal di Prancis mengikuti teman-temannya. Di Jerman dia menjadi murid E. Husserl, E. Lask, H. Rickert. Di Budapest dia menjadi murid Georg Lukacs, B. Zalai. Dengan Lukacs dia tidak hanya menjalin hubungan antara murid dan guru, tapi juga sebagai sahabat dan rekan kerja. Mannheim menikah dengan kawan seperguruan tingginya, Juliska Lang, yang kemudian menjadi psikolog dan banyak membantu Mannheim dalam karirnya sebagai ilmuwan.

Selama Hungaria di bawah kekuasaan Soviet pada tahun 1919, dia diberi jabatan oleh Lukacs. Setelah kekuasaan itu runtuh, Mannheim pindah ke Jerman. Di jerman dia menjadi pengajar sukarela di Universitas Heidelberg pada tahun 1925. Waktu itu Heidelberg menjadi pusat utama intelektual Jerman. Disana pula Mannheim merampungkan disertasi pos-doktoralnya “History of Conservatism”, diterbitkan pada tahun 1927 dengan judul Conservative Thought.

Pada tahun 1929 Mannheim pindah ke Universitas Frankfurt. Disana dia menjabat Guru Besar Sosiologi dan Ekonomi. Meskipun semangat intelektualnya sejalan dengan mazhab Frankfurt, tapi gagasannya sering berseberangan dengan mazhab Frankfurt. Selama kiprah akademisnya di Frankfurt itulah benih-benih gagasannya tentang sosiologi pengetahuan mulai ditanamkan. Namun pada masa pemerintahan Hitler dia diberhentikan dari jabatannya di universitas pada tahun 1933 berdasarkan ketetapan Nazi.

Setelah diberhentikan dari jabatannya di Jerman, Mannheim bermigrasi ke Britania-Inggris. Kedatangannya ke Inggris atas undangan Harold Laski. Tidak lama setelah itu dia mengajar sosiologi pada London School of Economics, kemudian pindah ke Universitas London. Setahun sebelum meninggal dunia Mannheim diangkat menjadi Guru Besar di Universitas London dalam bidang Sosiologi Pendidikan. Selama di Inggris Mannheim menyunting The Library of Sociology and Social Reconstruction.

Mannheim meninggal dunia dalam usia yang tidak terlalu tua. Namun hasil karyanya mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan ilmu sosial. Di tahun-tahun terakhir dia banyak memperhatikan masalah pendidikan. Bahkan beberapa bulan sebelum kematiannya dalam tahun 1947, Mannheim dicalonkan sebagai direktur UNESCO. Selama menetap di Inggris Mannheim banyak memberi kontribusi bagi perkembangan dan kemajuan sosiologi di Inggris, sehingga sosiologi menjadi disiplin ilmu yang disegani.

Mannheim sangat berminat pada filsafat, khususnya epistemologi. Di awal-awal karirnya, Mannheim memusatkan analisanya pada persoalan interpretasi, kemudian epistemologi dan dalam berbagai macam pengetahuan partikular. Seperti gurunya, Lukacs, gagasan filosofis Mannheim banyak dipengaruhi oleh gagasan-gagasan filosofis Georg Simmel. Pengaruh ini tampak jelas dalam karyanya “Soul and Culture” yang dipublikasikan pada tahun 1918 sebelum dia pindah ke Jerman.

Selama berada di Inggris minatnya beralih pada perencanaan masyarakat. Disini fokusnya pada isu-isu seperti birokratisasi masyarakat, pembentukan struktur kepribadian, peran dan posisi intelegensia, hubungan antara sosiologi dan kebijakan sosial. Beberapa hasil karyanya mengenai masalah itu diantaranya Man and Society in an Age of Reconstruction (1935), Diagnosis of Our Time (1943), Freedom, Power and Democratic Planning (diterbitkan setelah Mannheim meninggal, 1950). Bahan-bahan kuliahnya selama berada di Inggris diterbitkan pada tahun 1957 setelah dia meninggal, disunting oleh bekas mahasiswanya J.S. Eros dan W.A.C. Stewart dengan judul Systematic Sociology: An Introduction to the Study of Society. Dalam buku tersebut diungkapkan ruang lingkup sosiologi sistematis, yakni pelbagai bentuk kehidupan-bersama manusia. Bagi Mannheim bentuk bentuk kehidupan-bersama tidaklah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan kebudayaan. Mannheim mengonsepsikan sosiologi sebagai alat perencanaan masyarakat untuk menghindari bahaya totalitarianisme dan sistem kelas.

Dalam menganalisa kehidupan sosial Mannheim sangat terpengaruh oleh interpretasi Lukacs tentang marxisme dan mendukung analisa fenomena kultural terhadap identifikasi sudut pandang kelas. Namun tradisi interpretatif neo-Kantian nampaknya mempunyai pengaruh yang lebih besar pada konsepsi Mannheim ketimbang konsepsi Lukacs. Disamping itu tradisi historisme Jerman tampak dalam gagasan-gagasannya terutama melalui Dilthey dengan pembedaannya antara Naturwissenschaften (ilmu pengetahuan alam) dan Geisteswissenschaften (ilmu pengetahuan sosial) yang mesti dioperasikan dengan metode yang berbeda. Eklaren bagi ilmu alam dan verstehen bagi ilmu sosial. Sebagaimana dalam karyanya On the Interpretation of Weltanschauung Mannheim menyatakan bahwa produk-produk kultural memerlukan interpretasi makna yang tidak dapat dilaksanakan dengan metode ilmu pengetahuan alam.

Dalam teori interpretasinya atas fenomena intelektual, Mannheim membedakan interpretasi ideologis dari interpretasi sosiologis. Interpretasi ideologis, yang dikembangkan oleh Marxis, bagi Mannheim, merupakan interpretasi dari pikiran tertentu yang tetap terjebak dalam imanensi pikiran. Sedang interpretasi sosiologis merupakan interpretasi dari luar yang mencoba menghubungkan pengetahuan dengan konteks sosial yang lebih luas, dari sana datangnya petunjuk-petunjuk yang kita pahami artinya. Bila orang coba menginterpretasikan pikiran dari dalam, maka isinya muncul sebagai ide. Ketika orang mencoba pendekatan dari luar, isinya muncul sebagai ideologi, ideologi dianggap sebagai fungsi dari eksistensi yang ditempatkan di luar. Penggunaannya ini berarti pembukaan semua hubungan diatur secara eksistensial hanya menciptakan pengaruh dan kemunculan yang mungkin dari fenomena intelektual. Namun Mannheim menganggap interpretasi ideologis telah membuka langkah pada interpretasi yang lebih utuh, yakni interpretasi sosiologis.

Interpretasi sosiologis, bagi Mannheim, merupakan suatu diskusi mengenai pelbagai jenis interpretasi yang memperkaya interpretasi imanen atau intrinsik. Dengan mempergunakan penafsiran tersebut akan dapat diungkapkan pra-anggapan pra-anggapan eksistensial yang mempunyai arti. Hal ini bukan berarti bahwa interpretasi sosiologis meninggalkan ruang lingkup intelektual, karena pra-anggapan pra-anggapan eksistensial itu mempunyai arti tertentu, walaupun sifatnya prateoritis. Ketika interpretasinya disempurnakan Mannheim melakukan penelitian sistematis pada kontribusi kekuatan sosial terhadap bentuk-bentuk pengetahuan. Bahasan tersebut memasukkan (tidak terbatas pada) dampak generasi, tradisi intelektual, kepentingan kelas pada perbedaan-perbedaan konsepsi kepercayaan.

Referensi:

Jorge Larrain, Konsep Ideologi, ter. Ryadi Gunawan (1996).

Soerjono Soekanto, Karl Mannheim. Sosiologi Sistematis (1985).

Soerjono Soekanto, Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi (2002).

William D. Perdue, “Sociological Theory: Explanation, Paradigm, and Ideologi (1986).


3 Responses to “Sosiologi Pengetahuan (Mengenal Karl Mannheim)”


  1. Juli 3, 2008 pukul 2:28 pm

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  2. Mei 29, 2009 pukul 2:04 am

    nunpang baca materinya bagus
    saya berminat dnegan kajian sosiologi, maka senang banget dengan materi2 yang bagus.

  3. 3 Asep Kususanato
    September 7, 2009 pukul 3:44 am

    Mannheim membedakan interpretasi ideologis dari interpretasi sosiologis.

    (1) Interpretasi ideologis, yang dikembangkan oleh Marxis, bagi Mannheim, merupakan interpretasi dari pikiran tertentu yang tetap terjebak dalam imanensi pikiran.
    (2) Sedang interpretasi sosiologis merupakan interpretasi dari luar yang mencoba menghubungkan pengetahuan dengan konteks sosial yang lebih luas, dari sana datangnya petunjuk-petunjuk yang kita pahami artinya.

    (a) Bila orang coba menginterpretasikan pikiran dari dalam, maka isinya muncul sebagai ide.
    (b) Ketika orang mencoba pendekatan dari luar, isinya muncul sebagai ideologi, ideologi dianggap sebagai fungsi dari eksistensi yang ditempatkan di luar.
    =================================

    PERTANYAAN: Contoh intepretasi Marx di atas masuk kategori mana: (1) Ideologis, atau (2) Sosiologis. Juga agak rancu jika dikaitkan dengan penjelasan di butir: (a) ide, atau (b)Ideologi


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: